JANGAN TAKUT MENULIS PUISI 12 Mei 2010
Posted by smana in Prosa.trackback
Kadang kita tidak yakin kalau puisi kita pantas dibaca orang lain. sehingga terkadang kita malu meng-upload puisi-puisi kita di internet. Sebab jelas puisi yang ditayangkan lewat internet bakal dibaca orang sedunia. Tentu ada yang suka dan tidak suka.
Bagi yang satu visi dengan Anda, tentu akan memuji. Namun tidak sedikit, yang tidak satu pandangan dengan Anda. Mereka tentu akan mencemooh. mencela segala sisi kelemahan Anda tulisan Anda.
Bagi Anda yang pemula, tidak usah berkecil hati. Dinamika kehidupan di dunia ini banyak variasinya. Banyak sisi kehidupan yang orang lain tidak pernah menjumpainya, tidak pernah merasakannya, apalagi kehidupan batin seseorang. Maka sangat wajar kalau pengalaman hidup Anda merupakan barang asing bagi orang lain. Dan pada akhirnya karya Anda akan dicela. Lihat saja dibeberapa komentar puisi di blog ini. Ada yang menyenangkan tapi ada juga yang tidak menyenangkan. Sengaja kami tampilkan. Bukan untuk mematahkan semangat, namun untuk memacu semangat agar, kita mau memperbaikinya. Kita justru berterima kasih pada mereka karena mereka tidak bosa-basi pada kita. Dan telah menunjukkan kelemahan puisi kita. Bukankah kita jadi tahu bahwa kita pun mempunyai kekurangan? Mari kita perbaiki lagi.
Di sisi lain, orang yang mencela karya kita barang kali karena imajinasi Anda justru sudah lebih tinggi, dan orang lain belum sampai setaraf dengan imajinasi Anda. Ya, ini tentu orang itu tidak bisa menikmatinya.
Kreativitas orang tidak perlu Anda protes. Itu hak orang lain untuk berimajinasi. Saya tidak pernah mendengar orang protes mengapa Dora Emon terbang dengan baling-baling bambu. Tidak pernah protes Kantung saku sekecil itu dapat mengeluarkan segala alat dan teknologi yang dapat memecahkan berbagai problema.
Jadi yakinlah karya Anda akan bermanfaat dalam dunia sastra kita. Jangan ragu-ragu untuk mencipta. Cobalah renungkan semboyan “tatkala Anda menjadi sastrawan, Anda jangan menjadi teknokrat”. Apa maknanya? Tatkala Anda mencipta karya sastra, baik itu puisi maupun prosa, setiap baris/kalimat yang Anda cipta, jangan terus ditentang sendiri dengan logika. Apa masuk akal atau tidak? Tidak perlu dihakimi sendiri. Biarkan pembaca yang akan mengartikannya. Biarkan pembaca yang akan memaknai tulisan itu.
Satu pengalaman yang pernah saya amati. Suatu saat beberapa siswa ingin mengirimkan puisinya ke Majalah Kaki Langit – Horison. Sebelum dikirim sempat saya baca dulu. Ada yang menurut saya baik, ada pula yang saya pandang kurang baik. Ternyata ada puisi yang menurut saya kurang baik, justru diterima dan dimuat di Kaki Langit. Saya mengakui bahwa imajinasi saya berbeda dengan imajinasi siswa saya. Oleh sebab itu saya sangat menghormati karya siswa.
Maka sekali lagi, marilah kita mencoba jangan takut mencipta. Karena siapa tahu ciptaan kita akan dapat menjadi inspirasi bagi te
rciptanya karya yang lebih besar. Baik itu karya sastra, karya teknologi. Selamat berkarya.
Penulis : Sutoro



Komentar»
No comments yet — be the first.